f4ndri

MENGENANG TSUNAMI DI ACEH

Posted on: Juni 18, 2010

Dahsyatnya tragedi tsunami yang meluluh-lantakkan bumi Serambi Mekah tanggal 26 Desember 2004 lalu memang tidak terperikan. Bahkan setelah 4 tahun berlalu, masih banyak orang di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) ini masih trauma untuk sekedar mendatangi garis pantai. Bayangan gelombang laut setinggi 30 meter yang menerjang, memporak-porandakan rumah-rumah, menghanyutkan dan mencabut nyawa orang-orang terkasih, masih terbayang di pelupuk mata mereka, bahkan banyak sekali yang tak diketahui lagi keberadaannya.
Beberapa monumen yang mengingatkan peristiwa itu pun didirikan. Bangunan mesjid – mesjid yang selamat dan menjadi simbol kekuatan Sang Maha Perkasa, yang lebih perkasa dari gelombang tsunami ganas itu, telah direnovasi. Beberapa bangkai kapal yang terlempar dan ‘tersesat’ di daratan menjadi sarana pengingat kengerian yang terjadi saat itu. Sementara ketenangan dan suara semilir angin di lahan kuburan massal korban tsunami seakan suara-suara dari alam lain yang mengingatkan akan adanya kematian sebagai jenjang berikut dari perjalanan hidup manusia di dunia.

Dan bagi mereka yang selamat dari tragedi itu, tidak ada pilihan lain selain meneruskan hidup, menunggu giliran untuk kembali keharibaan Nya. Dunia akan terus berputar, meninggalkan segala kepedihan, kenangan dan ketakutan di belakang. Bangkit… itu sudah menjadi keharusan. Dan itu bukan lah urusan mudah. Kehancuran struktural tatanan masyarakat akibat tsunami, ditambah lagi situasi paska konflik, menyebabkan upaya perbaikan infrastruktur di Aceh bukan semudah membalikkan telapak tangan. Dan beban berat itu harus ditanggung oleh BRR yang dibentuk oleh Pemerintah RI dengan mandat mengembalikan kondisi masyarakat Aceh dalam waktu sesingkat-singkatnya.

Empat tahun berlalu sudah, setelah perbaikan hampir maksimal dilakukan, bagaimana situasi dan kondisi Aceh sekarang? Kesadaran akan perlunya perbaikan diri, perlunya merefleksikan diri dalam ketentuan yang telah digariskan Allah kepada manusia nampaknya hanya dikulit saja. Bagaikan wajah penari topeng, penuh dengan bedak dan gincu tebal. Memang benar.. di Aceh tidak ada lagi diskotik, malah ada polisi susila yang bernama Waliyatul Hisbah (WH) yang bertugas mencegah masyarakat Aceh berbuat maksiat, tetapi perebutan kekuasan terutama menjelang pemilu tampak mengemuka. Politik kotor pun bermunculan, pembunuhan, teror dan fitnah menyebar tanpa malu-malu.

Aceh… setelah guncangan itu… akankah engkau menangis lagi…?

Melongok tsunami di balik situs-situs

Tragedy tsunami 2004 di Aceh telah 4 tahun berlalu. Waktu, menurut orang bijak adalah kekuatan yang mampu menghapus segalanya. Kenangan akan kengerian, kepedihan, derita dan air mata saat bencana itu terjadi juga akan lenyap bersama dengan berjalannya waktu.

Manusia dengan segala keterbatasannya berusaha menciptakan tonggak-tonggak waktu agar kenangan itu tetap bertahan, agar dapat diambil hikmah dan dijadikan nasehat memperbaiki diri oleh mereka yang mengalami secara langsung maupun yang tidak.

Keberadaan situs-situs baik yang alami maupun sengaja dibuat tentunya memiliki peran dan fungsi yang sama. Sebagai tonggak waktu, sebagai sarana kembali kepada kenangan tadi. Di antara sekian banyak situs-situs peristiwa tsunami, Tim Waspada Online dalam kunjungan 3 hari di Aceh hanya sempat menyambangi beberapa saja. Diantaranya Mesjid Raya Baiturrahman Aceh, situs Kapal Apung di kawasan Punge Blang Cut, Museum Tsunami yang masih dalam tahap pembangunan, Makam massal di Ulee Lheue, Mesjid Raya Baiturrahim Ulee Lheue, Pelabuhan laut Ulee Lheue.

Mesjid Raya Baiturrahman
Sabtu sore… Ayat-ayat suci dari pengeras suara Mesjid Raya Baiturrahman terdengar syahdu mengalun mengiringi matahari di langit Kota Banda Aceh yang dengan malu-malu mulai berangkat ke peraduannya, seraya meninggalkan semburat warna jingga di awan. Ribuan burung layang-layang menukik, bercericit ramai, mencari tempat bertengger di celah dan ceruk dinding mesjid peninggalan Kerajaan Aceh yang mulai dibangun oleh Raja Aceh, Sultan Iskandar Muda tahun 1612 masehi itu.

Suasana jelang waktu Magrib saat itu terasa ramai. Ratusan masyarakat Kota Banda Aceh memanfaatkan libur akhir pekan untuk bercengkerama di halaman Masjid Raya. baiturrahman-2.jpgPara juru foto berkeliling menawarkan jasa, anak-anak kecil berlari di halaman masjid, ada juga keluarga yang membuka bekal dan makan bersama dekat kolam ikan besar yang ada.

Kegembiraan mereka kontras sekali dengan pemandangan di lokasi yang sama tanggal 26 Desember 2004, saat gelombang tsunami melanda kota. Ribuan mayat bertumpuk-tumpuk di serambi mesjid. Beribu ton sampah, potongan kayu, bangkai mobil teronggok di halaman.

Bayangan mengerikan itu sekejap sirna, saat adzan Magrib berkumandang. “Allahu.. Akbar .. Allahu Akbar…”.  Ya Allah, Engkau lah awal segalanya.. Engkau jua lah penghulu segalanya.. sampaikan do’a kami untuk mereka yang menjadi korban tsunami dulu,  Laa hawla wa laa quwata illa billah.

Kapal Apung
Pejamkan mata… coba bayangkan dalam pikiran kita, sebuah kapal besi.. besar … hampir sebesar bangunan Mesjid Raya Baiturrahman..20 meter tingginya…lebar 16 meter …. panjang 70 meter… bebannya berupa generator raksasa dengan berat 3600 ton.. terombang-ambing menyeret jangkarnya yang sebesar pintu rumah… mengikuti arus tsunami… memasuki kota Banda Aceh …

Bayangkan kekuatan yang menghanyutkan monster itu… bayangkan pekik ngeri orang-orang yang melihatnya… yang berada di atasnya… atau bahkan orang-orang yang tergilas di bawahnya….

Dan ‘monster’ itu saat ini nongkrong di atas puing 3 buah rumah penduduk di Desa Punge Blang Cut. Gelombang tsunami telah memindahkannya dari lokasi semula sekitar 500 meter dari bibir pantai Ule Lheue masuk hingga 2 kilo meter ke darat dari lokasi Pelabuhan Ulee Lheue.

Lokasi ini sekarang telah menjadi monumen keganasan tsunami yang paling fenomenal di Aceh saat ini. Pada mulanya pihak PLN berniat memindahkan kapal ini kembali ke laut, tapi biaya yang harus dikeluarkan mencapai Rp36 miliar dianggap lebih besar ketimbang membangun sebuah pembangkit dengan kapasitas yang sama yaitu 10 MW. Akhirnya Pemerintah Aceh memutuskan untuk menjadikannya sebagai monumen dan menata daerah sekitarnya menjadi daerah tujuan wisata.

Kuburan Massal Korban Tsunami

Sebuah pintu besi lipat berbilah empat berwarna hijau dengan tinggi 3 meter menyapa dengan ayat-ayat suci Al Qur’an yang ditatah di setiap bilahnya kepada setiap pengunjung yang ingin memasuki pemakaman massal korban tsunami di Ulee Lheue 6 km dari pusat kota Banda Aceh.

Melangkah ke dalam, sebuah jalan setapak beralaskan paving block warna merah jambu memisahkan dua buah taman permadani rumput hijau di kiri kanannya. Sebongkah batu hitam besar dengan prasasti dari marmer tampak di sebelah kiri. Tulisannya di dalamnnya membuat bulu kuduk berdiri,”Kullu Nafsin Dzaikatul Maut, setiap yang hidup pasti akan merasakan mati, disini dimakamkan 14.264 korban tsunami,” makam_tsunami-2.jpg

Kedua dataran bergelombang dilapisi permadani rumput hijau, bertuliskan kuburan dewasa dan di bagian lain bertuliskan kuburan anak-anak. Makam massal ini layaknya sebuah taman saja, terdapat deretan pohon palem setinggi 1 meter di sisi dekat pagar. Tidak tampak deretan nisan, hanya ada 2, 3 nisan kayu putih berdiri berdampingan dengan batu-batu besar kehitaman di tengah taman.

Dilatar belakang tampak bangunan menara yang sudah rusak diterjang ombak, temboknya berlubang-lubang sebesar badan orang dewasa. Sebuah bangunan yang merupakan bekas bangsal puskesmas Meureksa tampak sedang direnovasi menjadi sebuah monumen.

Suasana tenang dan syahdu, suara angin laut yang berhembus semilir menggoyangkan daun-daun palem dan lamtoro membuat irama sendiri, mengiringi angan terbang menyambangi arwah-arwah mereka yang terbaring di dataran padang rumput itu.

Ada juga kururan massal di kawasan Lam Baro,  di dekat jalan menuju Bandara Sultan Iskandar Muda. Di areal ini di makamkan sebanyak 26 ribu lebih korban tsunami. Sayangnya areal kuburan massal ini dalam keadaan sengketa, sehingga jika diperhatikan tampak kurang dirawat.

Mesjid Raya Baiturrahim Ulee Lheue
Sepintas bangunan mesjid yang terletak tidak jauh dari komplek makam massal ini seperti biasa saja. Arsitekturnya khas Aceh dengan tiang-tiang besar zaman renaisance Eropa serta kubah bawang di setiap menaranya.

Tapi, Subhanallah, bangunan mesjid inilah yang menjadi saksi akan kebesaran dan kekuasaan Allah SWT. Terletak tidak jauh dari bibir pantai, bangunan mesjid Baiturrahim menjadi satu-satunya bangunan yang berdiri tegak pasca hempasan gelombang tsunami tahun 2004 itu, disaat seluruh bangunan, rumah dan segala yang pernah tegak di dekatnya roboh diterjang gelombang maha dahsyat itu.

Berdirilah di selasar mesjid, arahkan pandangan ke bibir pantai, dan coba bayangkan datangnya ombak berwarna merah setinggi pohon kelapa berkejaran, gulung menggulung menuju ke arah kita berdiri. Rasakan ketakutan yang ada, yang memerihkan setiap bulu di kulit kita. Ketakutan yang sangat yang bahkan bisa membuat kita tidak lagi mampu berteriak.

Lalu tiba-tiba rasa takut itu akan berubah menjadi rasa takjub, tatkala ombak raksasa itu seakan membelah diri sewaktu akan menerjang mesjid, menyisakan ruang kosong ditengahnya sehingga tidak ada setetespun air laut yang menyirami kubah masjid. Ketakjuban yang bahkan akan membuat lutut kita tidak mampu menahan tubuh. Terduduk. Ya Allah inilah bukti kuasa Mu.

Museum Tsunami / Rumoh Aceh Escape Building Hill
Tiap tahun tanggal 26 Desember selalu dikenang. Setelah empat tahun tsunami semua kenangan itu di simpan dalam sebuah musium tsunami Aceh, bernama ‘Rumoh Aceh Escape Building Hill’. Kelak anak cucu bisa mengingat kembali sejarah yang maha pahit di abad modern setalah 25, 50 sampai 100 tahun ke dapan.

Pembangunan Museum Tsunami itu menghabiskan dana puluhan miliar rupiah di pusat Kota Banda Aceh, BRR mengalokasikan dana senilai Rp60 miliar. Museum itu juga merupakan salah satu museum paling unik di Indonesia. Keunikannya ada pada fisik bangunan.

Museum yang didesain dosen arsitektur Institut Teknologi Bandung (ITB), Ridwan Kamil, itu menggambarkan peristiwa tsunami yang meluluh-lantakkan sebagian wilayah di provinsi ujung paling barat Indonesia ini.

Jika dilihat dari disain bangunan, museum atau “Rumoh Aceh Escape Building ” yang berdiri di atas areal 10.000 m2 itu mengambil ide dasar rumoh Aceh yakni rumah tradisional masyarakat berupa bangunan rumah panggung.

Disain bangunan memperlihatkan di lantai pertama museum adalah ruang terbuka seperti rumah tradisional Aceh. Itu bermakna bahwa ruangan terbuka itu dapat dimanfaatkan sebagai ruang publik dan jika terjadi banjir atau tsunami, maka laju air yang datang tidak akan terhalangi.

Tampilan eksterior karya tersebut juga mengekspresikan keberagaman budaya Aceh melalui pemakaian ornamen dekoratif unsur transparansi elemen kulit luar bangunan.

Disain museum ini juga memiliki ‘escape hill‘, sebuah taman berbentuk bukit yang dapat dijadikan sebagai salah satu antisipasi lokasi penyelamatan terhadap datangnya banjir atau tsunami.

Museum Tsunami mengandung nilai-nilai religi, seperti ruang yang disebut ‘The Light of God‘. Ruang berbentuk sumur silinder itu menyorotkan cahaya ke atas sebuah lubang dengan tulisan arab “Allah” dan dinding sumur silinder dipenuhi nama para korban.

Selain mengambarkan kejadian tsunami yang pernah melanda Aceh pada 26 Desember 2004, Meseum Tsunami juga bisa menjadi salah satu obyek wisata dan pembelajaran bagi masyarakat.

Inilah dia landmark baru Aceh, setelah Mesjid Raya Baiturrahman.

Pelabuhan Ulee Lheue
Akibat bencana gempa bumi dan gelombang tsunami pada 26 Desember 2004, Pelabuhan Ulee Lheue termasuk salah satu dari sekian banyak sarana dan prasarana perhubungan yang hancur total. Sama dengan apa yang dialami kawasan permukiman di Banda Aceh, Pelabuhan Ulee Lheue ini pun sama sekali tidak tersisa akibat tsunami dahsyat itu.

Sekarang pelabuhan telah selesai direnovasi, rehabilitasi Pelabuhan Ulee Lheue ini menghabiskan biaya sekitar 2 juta dollar AS atau setara dengan Rp 19 miliar pada posisi kurs Rp 9.500 per dollar AS. Menurut sumber di pemerintahan Aceh, dana pembangunan kembali pelabuhan ini berasal dari bantuan Pemerintah Australia.

Pembangunan jalan menuju pelabuhan dilakukan dengan memanfaatkan kembali sampah tsunami yang didaur ulang. Pelabuhan Ulee Lheue yang pertama sekali dibangun tahun 1992 itu memiliki fungsi yang cukup strategis bagi transportasi laut antardaerah di NAD. Setelah berfungsi kembali, pelabuhan ini dapat disinggahi kapal feri cepat yang membawa penumpang dari Banda Aceh menuju Sabang, Calang, dan Meulaboh.

Ada pengalaman yang unik saat Tim Waspada Online tiba di Pelabuhan Ulee Lheue siang itu. Sepasukan polisi susila atau yang dikenal sebagai WH (Waliyatul Hisbah) tampak mengejar-ngejar belasan pasangan muda-mudi yang sedang memadu kasih di tebing batu di pinggir pantai pelabuhan. Para muda-mudi itu berlarian dan meninggalkan lokasi itu dengan memacu motor mereka, meninggalkan jurai asap knalpot motor dan juga anggota WH yang berdiri mengacungkan tongkat rotan mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

BERGABUNG

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

%d blogger menyukai ini: