f4ndri

Tragedi Berdarah DI ACEH

Posted on: Juni 18, 2010

tragedi berdarah simpang kka aceh utara

Tanggal 3 Mei punya banyak makna bagi warga Aceh Utara, dan juga bagi masyarakat Aceh pada umumnya. Tanggal tersebut selain bermakna resistensi atau perlawanan rakyat melawan negara, juga sebuah kenangan buruk, betapa negara begitu semena-mena terhadap rakyatnya. Karenanya, saban tahun—meski tak rutin karena kondisi Aceh tak selalu kondusif untuk mengenang tragedi—warga Aceh Utara khususnya para korban tragedi Simpang KKA memperingatinya.

Sekedar merawat ingatan, Senin, 3 Mei 1999 atau sembilan tahun silam, banyak darah berceceran di sekitar simpang PT KKA. Jeritan dan tangisan para korban memecah telinga siapa saja yang pernah mendengar. Saat itu, harga peluru tentara begitu murahnya, karena bisa dihambur-hamburkan dengan sangat mudah. Setelah itu, puluhan mayat dan ratusan korban tergelatak, ada yang sudah kaku, banyak juga yang masih bernyawa sambil merintih, yang lainnya berlarian seperti dikejar air tsunami, mencari tempat yang bisa dijadikan tempat berlindung.

Saat tragedi itu, korban luka-luka tak terhitung. Hanya data yang dikumpulkan oleh Tim Pencari Fakta (TPF ) Aceh Utara menyebutkan 115 orang mengalami luka parah, sementara 40 orang lainnya meninggal dunia. Dari jumlah itu, ada 6 orang masih sangat kanak-kanak, termasuk Saddam Husein (7 tahun) menjadi korban kebuasan aparat negara.

Sementara data yang dikeluarkan Koalisi NGO HAM Aceh, menyebutkan sekitar 46 orang meninggal (dua orang meninggal ketika menjalani perawatan di RSUZA Banda Aceh), sebanyak 156 mengalami luka tembak, dan 10 orang hilang dalam insiden tersebut.

Sabtu kemarin, 3 Mei 2008, berarti sudah sembilan tahun tragedi itu berlalu. Meskipun banyak pihak melupakan peristiwa itu, tidak bagi para korban. Jamaluddin, misalnya, sampai sekarang masih terkenang dengan tragedi paling kejam dalam hidupnya. Jamal, kelahiran Sawang, Aceh Utara mengisahkan, bahwa saat peristiwa itu terjadi, dirinya melihat banyak sekali korban tembakan yang rubuh. Jamal juga mendengar jeritan tangis dari para ibu dan bapak yang melihat warga tertembak.

Jamal sendiri mengaku, saat tragedi itu, tubuh-tubuh warga yang kena tembakan jatuh menindihnya. Dengan sisa tenaga yang ada, mayat-mayat diambil dan diletakkan di tempat yang layak. Jamal mengaku, tak tahu harus berkata apa saat itu. Jamal, sendiri luput dari maut.

Jamal berharap Pemerintah Aceh tidak melupakan peristiwa itu. Kalau memang ini pelanggaran HAM, pelakunya harus diadili. Karena itulah keadilan bagi korban.
Jamal sendiri merupakan anggota GAM Wilayah Pase. Pasca-damai, dia sibuk mengurusi para mantan kombatan GAM yang mengalami luka tembak saat konflik. Dia dipercayakan sebagai Ketua Bidang Kesehatan dalam struktur Komite Peralihan Aceh (KPA), wadah tempat bernaung para mantan kombatan GAM.

***
Pada 3 mei 2008 kemarin, puluhan korban konflik, anggota KPA dan masyarakat menggelar acara doa bersama mengenang peristiwa 9 tahun silam tersebut.
Tgk Safri Ilyas, Ketua Panitia Pelaksana kepada wartawan selepas acara itu meminta agar tidak mengaitkan acara doa bersama yang digelar pihaknya dengan kegiatan politik atau ada bumbu-bumbu politiknya. Menurutnya, kegiatan ini murni inisiatif para korban selamat tragedi Simpang KKA untuk mengenang para korban yang telah syahid.

“Kegiatan doa bersama itu bukan karena adanya unsur dendam, atau karena keinginan membalas dendam. Acara ini bukan pula kegiatan politik. Melainkan catatan sejarah yang harus diingat bersama, di mana di jalan hitam ini telah bersimbah darah,” ujarnya.

Doa bersama itu bisa juga bermakna merawat ingatan, agar siapa saja tidak melupakan noktah hitam dari sejarah Aceh. Inilah sisi gelap perjalanan Aceh yang harus diingat oleh siapa saja. Selain itu juga mengingatkan, bahwa damai bukan dicapai dengan modal kosong tanpa pengorbanan apa-apa.

Karenanya, kita ingin agar peristiwa ini tidak terulang lagi, seperti bunyi sebuah spanduk saat peringatan serupa tahun lalu: “Kasep Ubee nyang ka, bek meu ulang lee” (Sudah cukup apa yang sudah terjadi, jangan sampai terulang lagi).

Meskipun sudah cukup apa yang sudah terjadi, tapi bagi para korban, keadilan di atas segala-galanya. Para korban selamat atau keluarga mungkin bisa saja memaafkan pelaku kejadian itu, tetapi mereka tidak bisa melupakannya. Tapi, para pelaku harus tetap diadili, agar menjadi pelajaran, sehingga peristiwa serupa tidak terulang. Sementara pemerintah berkewajiban membantu para korban yang selamat, keluarga korban dengan memberikan kompensasi atau pun bantuan, sebagai bentuk pengakuan bahwa pemerintah telah bersalah mencelakai rakyatnya.

Permintaan para korban tragedi agar tanggal 3 Mei dijadikan hari berkabung untuk mengenang tragedi simpang KKA, dengan menghentikan aktivitas pada Jam 11.00 s/d 14.00 WIB patut didukung. Karena dengan cara inilah, kita mengenang sejarah hitam negeri kita. Dengan cara inilah, membuat kita selalu ingat bahwa keadilan untuk para korban belum sepenuhnya dipenuhi.

Karena itulah, tulisan ini dibuat untuk merawat ingatan, siapa saja, agar tragedi ini terus dikenang, meskipun pahit. Sama sekali tidak ada maksud apa-apa dari tulisan ini, selain merawat ingatan, bahwa perjalanan sejarah kita pernah punya babak yang sangat gelap.

tragedi berdarah simpang kka aceh utara

Para korban dan keluarga korban tragedi Simpang KKA, memperingati delapan tahun peristiwa tersebut, Kamis (3/5/2007) membubuhkan tandatangan di atas kain putih sepanjang tujuh meter. Hal tersebut mereka lakukan sebagai upaya pengusutan bagi pelanggaran HAM di Aceh.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: